Setelah Abraham menetap di Kanaan, beberapa kali Allah menampakkan diri lagi kepadanya untuk meneguhkan janji mengenai keturunannya. Dalam Kej 15 diceritakan mengebai jumlah keturunannya akan seperti bintang di langit  dan ia percaya itu sehingga diperhitungkan sebagai kebenaran (15:5-6). Namun dalam pasal 16 ketika ia berusia 85, ia menuruti saran istrinya (Sarai) untuk menjadikan Hagar sebagai istrinya yang kedua dalam usaha menggenapi janji Allah tentang keturunan. Dalam pasal 17 ini ketika ia berusia 99 tahun, Allah menampakan diri lagi untuk meneguhkan kembali dan  menjamin janji mengenai keturunannya itu :

1.Allah menyatakan diriNya sebagai Allah yang Mahakuasa; dan Abram untuk hidup dengan tidak bercela (ay 1). Penyataan Allah dan tuntutanNya terhadap Abram ini memperlihatkan bahwa inisiatif Allah dan ketepatan janji-janjiNya yang bersifat kekal dapat melibatkan respons konkrit dari  orang pilihannya. Namun keterlibatan orang pilihanNya bukan menurut hikmatnya, tetapi taat & bergantung sepenuhnya kepada apa yang Allah perintahkan.

2.Allah mengubah nama Abram dan Sarai (ay 4-5; 15-16). Penggantian nama menunjukkan perubahan jati diri dan visi-misi hidup mereka. Abram yang berarti : bapa yang mulia diubah menjadi Abraham yang berarti : bapa sejumlah besar bangsa. Sedangkan Sarai diganti/disebut Sara.

3.Sehubungan dengan peneguhan janji Allah (ay 2, 4-8), Ia meminta Abraham untuk melakukan sunat yang berlaku untuk semua laki-laki dalam rumah dan keturunannya (ay 9-14). Abraham menaati permintaan tersebut dengan menyunatkan semua laki-laki yang tinggal dalam rumahnya, termasuk dirinya sendiri di usianya 99 tahun (ay 23-27). Responsnya terhadap permintaan Allah merupakan bukti ikatan perjanjiannya kepada Allah, yang berlanjut kepada keturunannya. Walaupun Abraham yang berusia 99 tahun, namun tetap disunat merupakan tanda dalam tubuhnya sendiri akan seriusnya janji Allah : bahwa ia akan setia dan taat kepada janji itu. Di kemudian hari pada zaman Perjanjian Baru, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia dan Roma : ia menegaskan sunat dalam arti yang baru yaitu sunat melambangkan penyucian hati. Orang Kristen sebagai keturunan Abraham yang rohani, tidak perlu menyunatkan diri secara lahiriah, tetapi yang penting secara batiniah (rohani) yaitu penyunatan hati : hati yang dibaharui melalui baptisan.

4.Keraguan Abraham akan janji Allah itu nyata : ia tertawa mendengar bahwa ia dan Sara akan mendapat anak di saat usia mereka sudah tua, juga ia menyebut soal Ismael (ay 18-19). Namun Allah tetap meneguhkan kembali bahwa keturunan Abraham yang akan mewarisi tanah perjanjian bukan datang melalui Ismail, melainkan melalui anak kandungnya yang akan lahir dari Sara (17:19-21). Bahkan ditegaskan sebelumnya dalam pasal 15 bahwa tidak datang melalui hambanya Eliezer (bdgk 15: 4a).

Keraguan Abraham akan janji Allah mengenai penggenapan keturunnnnnya juga bisa terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi yang jelas, sikap Allah tidak berubah. Allah tahu pergumulan kita sebagai manusia biasa yang terus menerus berharap, namun tak kunjung menerima. Ada saat-saat iman kita itu goyah. Allah mengerti kelemahan kita, sebab itu Ia datang untuk menguatkan dan menghibur. Namun Ia juga meminta respon dan keterlibatan kita yang nyata : iman dan ketaatan. Jika kita telah mengikat janji dengan Allah, maka buktikanlah itu dengan iman dan ketaatan dalam kehidupan kita.

 

 

 

(Pnt. K. Aminadab Tefbana,

31  Juli  2011, Minggu ke-7  sesudah Pentakosta)