Pandangan tentang asal-usul dan hakikat manusia sangat beraneka ragam. Misalnya pandangan Yunani, teori evolusi, ilmu pengetahuan, padangan suku atau golongan manusia itu sendiri, dan masih banyak lagi. Namun  secara umum hampir semua pandangan itu berbeda dengan pandangan Alkitab sebagai dasar pandangan Iman Kristen.

Alkitab menyaksikan beberapa hal tentang asal mula dan hakikat manusia yaitu :

v   Manusia ada karena diciptakan oleh Allah dari debu, namun diciptakan menurut gambarNya (1:26-27; 2:7; bdk Maz 8:6).

v   Manusia diciptakan berbeda dengan makhluk lain karena diciptakan secara istimewa yaitu dilakukan atas mufakat Allah  yang bijaksana dan berdaulat (1:26; bdk Yes 40:12-31). Pemazmur mengakui ciptaan dirinya terjadi secara detail (Maz 139:13-16)

v   Manusia dapat hidup hanya oleh napas atau Roh Allah dan selama Allah membiarkan RohNya tinggal dalam daging manusia (2:7; 6:1, 3; bdk Maz 51:12-14)

Perbedaan hakiki manusia dengan makhluk lain adalah bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (1:26-27) sedangkan makhluk lain diciptakan menurut jenis mereka

Arti dan Tujuan Manusia diciptakan menurut Gambar Allah  adalah :

Pertama, Ada hubungan yang khusus antara manusia dengan Allah sebagai penciptannya. Hubungan ini tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan lain. Hidup manusia tidak bisa dipisahkan dari hubungannya dengan Allah. Tujuannya : sebagai gambar Allah, manusia harus dapat mengasihi Allah dengan benar.

Kedua, Cerminan hubungan manusia dengan sesamanya. Manusia tidak ciptakan hanya sebagai laki-laki tetapi juga diciptakan sebagai perempuan. Tujuannya: Sebagaimana hakekat Allah Tritunggal demikianlah manusia sebagai gambar Allah harus  hidup dalam persekutuan dengan sesamanya. Manusia dapat mengasihi sesamanya.

Ketiga, Hubungan manusia dengan makhluk ciptaan yang lain. Tujuannya : Sebagai gambar Allah, manusia diberikan wewenang, tugas dan tanggung jawab oleh Allah untuk menguasai bumi atas nama Allah (1:26-29; bdk Maz 8:7-9)

Bagaimana Gambar Allah itu terlihat dalam diri manusia?

1. Gambar Allah yang ada pada kita hanya ditemukan dalam diri melalui kapasitas-kapasitas akal budi, emosi, kehendak, imajinasi, relasi sosial. Hendaknya disyukuri dan dipakai penuh untuk mengasihi Allah dan sesama dan diri sendiri (Hukum Kasih). Banyak orang tidak maju dalam melakukan hukum kasih, karena kurang atau tidak pernah mensyukuri dirinya sebagai ciptaan Allah (bdk. Maz 139:13-16). Mengasihi berarti memprioritaskan obyek yang kita kasihi.

2. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mewakili Tuhan Allah. Karena itu segala potensi yang dikarunikan kepada kita seperti manajemen, otoritas, pemerintahan, penguasaan, dan lain lain. Semua itu harus digunakan secara maksimal, bijaksana dan bertanggung jawab dalam menguasai alam yaitu seluruh ciptaan yang lain.

3. Ingat bahwa kita diciptakan dari debu yang tidak akan berarti jika Allah tidak ada dalam diri kita (2:7; bdk Maz 103:14). Gambar Allah dalam diri kita tidak akan berdampak jika tidak bergantung total kepada Allah.

(Ev. Aminadab Tefbana),

06 Februari 2011, Minggu  Epifania ke-5)